Sejarah Proto Filipina (Manusia Pertama Filipina)

source
Robert Oliver mengatakan spesies yang paling canggih, yaitu Homo sapiens (manusia modern), telah berevolusi sejak 120.000 tahun yang lalu. Ada bukti dari pertumbuhan penduduk yang cepat di seluruh dunia. Jadi bagaimana Homo sapiens menyebar? Secara umum diterima bahwa cikal bakal Homo sapiens, adalah Homo erectus, meninggalkan Africa sekitar 1,5 juta tahun yang lalu untuk mengisi bagian-bagian lain dunia, ada dua teori utama tentang penyebaran Homo sapiens.

Teori pertama, yang dikenal sebagai model 'Out of Africa', adalah bahwa Homo sapiens pertama berkembang di Africa dan kemudian menyebar ke seluruh dunia antara 100.000 dan 200.000 tahun yang lalu, menggantikan spesies Hominid allother. Implikasi dari argumen ini adalah bahwa semua orang modern keturunan Afrika ultimatelyof.

Teori lainnya, yang dikenal sebagai model 'multi-regional', adalah bahwa Homo sapiens evolved simultaneously di berbagai belahan dunia dari Homo erectus pemukim asli. Orang di China turun dari populasi Homo erectus di sana, sementara Australia turun dari populasi Homo erectus di South Asia. Teori Timur memperkuat dengan mengutip bukti DNA. Analisis genetic blueprint yang diwariskan dari generasi ke generasi dalam migrasi manusia.

Kisah manusia mulai 160.000-120.000 tahun yang lalu ketika species Hominin disebut Homo sapiens hidup dan menjelajahi Afrika selama ribuan tahun. Dengan kemampuan mental yang dikombinasikan tubuh berdiri tegak, telah memungkinkan manusia menggunakan berbagai alat daripada spesies lainnya. Pada 90.000 hingga 85.000 tahun yang lalu manusia mulai eksodus pertama ke arah timur menyeberangi Laut Merah.

Berkeliaran di sepanjang pantai selatan Jazirah Arab mereka menyusuri pantai dan melakukan perjalanan jauh di seberang pantai Samudera Hindia menuju Indonesia yang saat itu terhubung oleh daratan. Antara 30.000 dan 50.000 SM bumi telah mengalami perubahan bentuk permukaan. Pada periode ini manusia purba dari Asia Tengah bergerak ke Eropa Timur, sementara yang lain membuat jalan mereka untuk tanah jembatan Bering terletak di antara Alaska dan Siberia, kemudian menuju Amerika Utara mencapai jam Palaeolithic memutar ke arah 20.000 SM.  Bumi mulai menerima minimal panas matahari di belahan bumi utara selama musim panas. Cuaca menjadi dingin dan cuaca hangat berhenti. Selubung es mulai maju dari utara mulai turun di 130 meter (430 ft). Singkatnya, seluruh dunia telah memasuki Zaman Es.

Para ilmuwan percaya bahwa selama periode antara 30.000 SM ke 20.000 SM. Sisa-sisa kelompok Homo Sapiens yang meninggalkan Afrika 85.000 tahun yang lalu yang masih terisolasi di Semenanjung Malaya menyeberangi jembatan tanah dari Kalimantan dan pindah ke pedalaman Filipina. Aetas seperti yang kita sebut mereka telah menjadi sangat nomaden karena ketegangan andeconomic sosial. Pada budaya dan cara hidup yang sebelumnya tetap tidak berubah. Perkembangan pertama di seluruh dunia memulai peradaban, agama pun berdiri, saling menjajah negeri-negeri jauh, perang, pandemik menyebar dan tanda kiri genetik Beberapa antropolog berhipotesis bahwa kehadiran manusia di Filipina sekitar 250.000 SM pada awal Zaman Es (Pleistocene) atau Periode Tengah. Mereka datang dengan cara melewati jembatan tanah yang menghubungkan kepulauan Asia Tenggara dengan Asia. Ini diduga adalah species Hominin yang masih sepupu dari "Manusia Peking", "Javaman", dan laki-laki awal lainnya di Asia. Profesor H. Otley Beyer, otoritas eminent American pada arkeologi dan antropologi Filipina, menjulukinya sebagai "Dawn Man", karena ia muncul di Filipina pada waktu menjelang pagi. Berotot dan berambut tebal. "DawnMan", tidak punya pengetahuan tentang pertanian. Dia tinggal dengan cara mengumpulkan tanaman liar yang dapat dimakan, memancing dan berburu. Ini adalah kemungkinan bahwa ia mencapai Filipina saat berburu. Pada saat itu babi hutan, rusa, gajah raksasa dan kerdil, badak, dan hewan lainnya pada masa Pleistosen berkeliaran di wilayah ini.

Temuan arkeologi terbaru menunjukkan tempat tinggal manusia Filipina awal adalah ditemukan 300 km sebelah utara Manila, menunjukkan keberadaan manusia sekitar 67.000 tahun yang lalu. Menemukan fragmen tulang milik genus Homo. Hal ini masih belum jelas pada saat ini apakah penemuan ini adalah Homo habilis, atau Homo Erectus atau sesuatu yang lain. Ada kemungkinan bahwa ini penemuan dari Asia daratan ketika Filipina masih terhubung dengan jembatan tanah dengan Cina daratan. The Cave Man Callao mendahului Manusia Tabon pada 42.000 tahun dan sebagai bukti eksistensi manusia di Asia Tenggara saat ini.

sumber lain dan foto:

Legenda Sampuraga (Suku Batak Siladang)

Sampuraga, sebuah legenda dari tanah Mandailing Sumatra Utara. Cerita tentang si Sampuraga ini juga terdapat di daerah Kalimantan Barat, tetapi dengan alur cerita agak berbeda dan tidak diketahui pasti apa ada hubungannya atau tidak dan kemungkinan hanya terjadi kebetulan kesamaan nama.

Lingkungan desa yang tampak masih hijau dengan kehidupan yang damai, konon di wilayah ini menjadi asal-muasal cerita tentang Si Sampuraga na maila marina (yang malu mengakui ibunya).

Dahulu kala, ada seorang anak yang tinggal di Mandailing tepatnya di sebuah kampung yang kini dihuni masyarakat Siladang. Dia seorang anak yatim namanya Si Sampuraga. Ketika berumur 10 tahun, si Sampuraga berniat meninggalkan kampungnya untuk pergi merantau. Lalu sang ibu memberinya perbekalan. Si Sampuraga pergi ‘merantau’ ke Saba Jior. Ketika dia dewasa, seorang putri raja di Saba Jior tertarik dengan Sampuraga dan ingin menikahinya. Akhirnya Si Sampuraga pun menikah dengan sang putri raja tersebut dan tidak beberapa lama, Sampuraga pun dinobatkan menjadi raja.

Berselang satu tahun, kabar tentang Si Sampuraga menjadi raja sampai ke kampung tempat ibunya tinggal. Seluruh penduduk terkejut mendengar berita itu, bahkan ibunya tidak menyangka. Ibu Si Sampuraga yang sudah semakin tua renta dan miskin sangat rindu dan mengharapkan kehadiran anak satu-satunya itu. Sebab hanya Si Sampuraga lah yang dimiliki dalam hidupnya. Karena itu, dia sangat ingin menemuinya. Dengan tertatih-tatih sang ibu ini pun berangkat untuk menemui Si Sampuraga dengan melakukan perjalanan jauh, menembus hutan hingga pada akhirnya tiba di tempat tujuan. 

Setibanya sang ibu di kediaman Si Sampuraga yang kebetulan sedang mengadakan pesta. Para penduduk sedang memasak makanan, daging dan banyak jenis makanan lainnya. Melihat itu, rasa lapar sang ibu muncul yang sudah beberapa hari belum makan. Para pekerja yang memasak ingin memberikannya. Tapi ketika Si Sampuraga melihat perempuan tua ini, dia berdiri dan melarang budaknya untuk memberikan sesuatu pada perempuan tua itu, lalu mengusirnya. Si Sampuraga berbuat seolah-olah dia tidak mengenalnya, padahal dalam hatinya dia tahu bahwa perempuan tua itu adalah ibunya. Tapi ternyata Si Sampuraga telah berubah menjadi manusia angkuh, dan dia merasa malu mengakui perempuan tua itu sebagai ibunya.

Perempuan itu menangis dan bertanya “Mengapa anakku, tidak mengenal aku. Aku adalah ibumu, anakku’. Si Sampuraga menjawab dan menghardik “Aku tidak mengenalmu". Lantas, sang ibu berkata “Aku bisa membuktikan bahwa kau adalah anakku”. Si Sampuraga semakin mendidih dengan bertanya marah  “Apa buktinya?”. Lalu sang ibu itu menjawab tenang “Ada suatu bekas tanda lahir di punggungmu”. Si Sampuraga berusaha mengalihkan pertanyaan, "Tapi untuk apa?”. Si Sampuraga tidak mau membuka bajunya bahkan ia semakin marah kepada ibunya. Sang istri Si Sampuraga yang berada di tempat kejadian berusaha menasehati Si Sampuraga, agar ia menyadari dan menuruti permintaan sang ibu. Tapi, Si Sampuraga semakin keras hati. Tiba-tiba Si Sampuraga menyepak perempuan tua itu dan menamparnya. Sang ibu pun sangat sedih dan kecewa melihat sikap anak satu-satu yang sangat dikasihinya tersebut.

Perempuan itu lalu berdoa agar Tuhan mengampuni dan memaklumi anaknya yang durhaka itu. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, tiba-tiba halilintar menyambarnya dengan disertai datangnya air bah. Dalam sekejap, kampung baru Si Sampuraga itu tenggelam dan hampir semua penduduk kampung  termasuk Si Sampuraga, istrinya, budak-budak kerajaan bahkan sang ibu pun ikut mati tenggelam. 

Di tempat ini sampai sekarang masih terdapat lubang berisi air panas yang disebut Lubang Air Panas Sampuraga.

Legenda Asal Usul Danau Toba

Danau Toba, salah satu danau terbesar di pulau Sumatra, selain itu danau ini juga sebagai danau terbesar di Indonesia. Selain besar danau ini juga sangat terkenal dengan keindahannya serta keunikan beragam dari etnis yang menghuni pulo Samosir dan sekitar danau Toba, sehingga banyak dikunjungi oleh wisatawan dari segala penjuru wilayah Indonesia hingga wisatawan dari manca negara. Danau Toba memiliki sejumlah cerita rakyat yang berasal dari beberapa etnis yang berdiam di sekitar danau. Di sekitar danau Toba dihuni oleh beberapa etnis batak seperti Toba, Samosir, Pakpak, Karo dan Simalungun. Mereka menghuni pesisir danau Toba sudah sejak ribuan tahun yang lalu dan mengklaim diri mereka sebagai penduduk asli wilayah ini. Sedangkan yang menghuni pulau di tengah-tengah danau, yaitu pulo Samosir adalah suku Batak Toba dan suku Batak Samosir. Sedangkan sebuah pulau lagi yang berukuran kecil tidak memiliki penduduk, tapi terdiri beberapa rumah penginapan bagi wisatawan.

Sebuah cerita yang berasal dari penduduk setempat di pulo Samosir menceritakan bagaimana awal terjadinya danau Toba. Cerita ini hanyalah sebuah cerita rakyat yang tersimpan dan tetap terpelihara dengan baik di kalangan masyarakat batak di pulo Samosir.

danau Toba dan pulau Samosir di tengah danau
Di sebuah desa hidup seorang petani. Ia adalah seorang petani yang rajin bekerja walaupun lahan pertaniannya tidak luas. Ia bisa mencukupi kebutuhannya dari hasil kerjanya yang tidak kenal lelah. Sebenarnya usianya sudah cukup untuk menikah, tetapi ia tetap memilih hidup sendirian. Di suatu pagi hari yang cerah, petani itu memancing ikan di sungai. "Mudah-mudahan hari ini aku mendapat ikan yang besar", gumam petani tersebut dalam hati. Beberapa saat setelah kailnya dilemparkan, kailnya terlihat bergoyang-goyang. Ia segera menarik kailnya. Petani itu bersorak kegirangan setelah mendapat seekor ikan cukup besar.

Ia takjub melihat warna sisik ikan yang indah. Sisik ikan itu berwarna kuning emas kemerah-merahan. Kedua matanya bulat dan menonjol memancarkan kilatan yang menakjubkan. "Tunggu, aku jangan dimakan! Aku akan bersedia menemanimu jika kau tidak jadi memakanku". Petani tersebut terkejut mendengar suara dari ikan itu. Karena keterkejutannya, ikan yang ditangkapnya terjatuh ke tanah. Kemudian tidak berapa lama, ikan itu berubah wujud menjadi seorang gadis yang cantik jelita. "mimpikah aku ini ?", gumam petani.
"Jangan takut, aku juga manusia seperti engkau. Aku sangat berhutang budi padamu karena telah menyelamatkanku dari kutukan", kata gadis itu. "Namaku Puteri, aku tidak keberatan untuk menjadi istrimu", kata gadis itu seolah mendesak. Petani itupun mengangguk. Maka jadilah mereka sebagai suami istri. Namun, ada satu janji yang telah disepakati, yaitu mereka tidak boleh menceritakan bahwa asal-usul puteri dari seekor ikan. Jika janji itu dilanggar maka akan terjadi petaka dahsyat.
Setelah sampai di desanya, gemparlah penduduk desa melihat gadis cantik jelita bersama petani tersebut. "bah! jangan-jangan dia itu bidadari dari langit!", kata mereka. Petani merasa sangat bahagia dan tenteram. Sebagai suami yang baik, ia terus bekerja untuk mencari nafkah dengan mengolah sawah dan ladangnya dengan tekun dan ulet. Karena ketekunan dan keuletannya, petani itu hidup tanpa kekurangan dalam hidupnya. Banyak orang iri, dan mereka menyebarkan sangkaan buruk yang dapat menjatuhkan keberhasilan usaha petani. "Aku tahu Petani itu pasti memelihara makhluk halus! " kata seseorang kepada temannya. Hal itu sampai ke telinga Petani dan Puteri. Namun mereka tidak merasa tersinggung, bahkan semakin rajin bekerja.

Setahun kemudian, kebahagiaan si petani dan istri bertambah, karena istri si petani melahirkan seorang bayi laki-laki. Kebahagiaan mereka tidak membuat mereka lupa diri. Anak mereka tumbuh menjadi seorang anak yang sehat dan kuat. Ia menjadi anak manis tetapi agak nakal. Ia mempunyai satu kebiasaan yang membuat heran kedua orang tuanya, yaitu selalu merasa lapar. Makanan yang seharusnya dimakan bertiga dapat dimakannya sendiri.
Lama kelamaan, Putera nya selalu membuat jengkel ayahnya. Jika disuruh membantu pekerjaan orang tua, ia selalu menolak. Istri petani selalu mengingatkan agar bersabar atas ulah anak mereka. "Ya, aku akan bersabar, walau bagaimanapun dia itu anak kita!" katanya kepada sang istri. "Syukurlah, abang berfikiran seperti itu. Abang memang seorang suami dan ayah yang baik", puji istrinya.

Memang kata orang, kesabaran itu ada batasnya. Hal ini dialami oleh petani itu. Pada suatu hari, sang anak mendapat tugas mengantarkan makanan dan minuman ke sawah di mana ayahnya sedang bekerja. Tetapi sang anak tidak memenuhi tugasnya. Sang petani menunggu kedatangan anaknya, sambil menahan haus dan lapar. Ia langsung pulang ke rumah. Dilihatnya sang anak sedang bermain. Si petani menjadi marah sambil menjewer kuping anaknya. "anak tak tau diuntung ! Tak tahu diri ! Dasar anak ikan !", umpat si petani tanpa sadar telah mengucapkan kata pantangan itu.
Setelah petani mengucapkan kata-katanya, seketika itu juga anak dan istrinya hilang lenyap. Tanpa bekas dan jejak. Dari bekas injakan kakinya, tiba-tiba menyemburlah air yang sangat deras dan semakin deras. Desa mereka dan desa sekitarnya terendam air bah. Air meluap sangat tinggi dan luas sehingga membentuk sebuah telaga. Dan akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu akhirnya dikenal dengan nama danau Toba. Sedangkan pulau di tengahnya dikenal dengan nama pulau Samosir.

Legenda Bukit Sebomban (Dayak Mayau)


Pada suatu ketika, hidup seorang nenek dengan cucunya mereka tinggal di dalam hutan jauh dari perkampungan di sebuah gubuk reot. Mereka hidup dikucilkan oleh orang kampung karena orang kampung tidak suka melihat mereka berdua. Sang nenek dan si cucu hidup dari hasil hutan dengan peratan dan perkakas apa adanya.

Cerita ini bermula ketika orang kampung mengadakan pesta Gawai Panen Padi selama 7 hari 7 malam karena panen yang mereka dapat tahun ini melimpah ruah. Mereka mengundang kampung tetangga dari 4 penjuru untuk datang menghadiri Pesta Gawai yang diadakan oleh orang kampung. Tapi satu kesalahan terjadi, mereka tidak mengundang sang nenek dan sang cucu (karena adat istiadat pada zaman itu apabila mengadakan gawai semua orang harus diundang ke dalam pesta tersebut kalau tidak akan mendapat petaka).

Pada suatu hari pergilah sang cucu tersebut ke kampung karena mendengar kabar bahwa orang kampung mengadakan pesta gawai dari orang-orang kampung tetangga berangkat ke pesta gawai. Si cucu maklumlah masih kecil maka dia pun berangkat menghadiri pesta tersebut tetapi sesampai di sana bukannya kemeriahan yang dia dapat tetapi si cucu mendapat perlakuan yang kasar dari orang kampung, dicemooh dan diusir. Dengan perasaan sedih dia pulang menemui neneknya dan menceritakan perlakuan orang kampung kepada neneknya. Sang nenek sedih hatinya mendengar cerita cucunya. Karena kasihan kepada cucunya lalu sang nenek menyuruh sang cucu kembali lagi ke kampung, barangkali ada orang kampung yang mau menaruh perhatian kepada mereka.
Akhirnya sang cucu pun menuruti keinginan neneknya untuk kembali ke kampung tapi apa yang terjadi perlakuan orang kampung sama seperti yang sudah-sudah, malah lebih kasar lagi layaknya seperti binatang dengan memberi si cucu tersebut dengan daging yang terbuat karet (latek)yang rasanya hambar dan alot. Si cucu membawa daging tersebut pulang kepada neneknya, sesampai di gubuk si cucu menyerahkan daging pemberian orang kampung tersebut kepada neneknya dan nenek itu memakan daging pemberian si cucu, tapi daging tersebut sangat alot. Ssetelah tahu bahwa daging pemberian orang kampung tersebut palsu maka murkalah sang nenek dan berkata "Celakalah orang kampung karena telah memperlakukan kita seperti binatang", geramnya.

Lalu sang nenek menyuruh si cucu untuk pergi lagi ke kampung dengan membawa seekor anak kucing yang didandani layaknya seperti manusia dengan sarung parang di pinggangnya dan menyuruh melepaskan anak kucing tersebut di tengah orang ramai. Si cucu pun mengikuti perintah sang nenek dan melaksanakan apa yang diperintahkan sang nenek si cucu melepaskan anak kucing tersebut ke tengah orang ramai dan ketika orang ramai tersebut melihat anak kucing tersebut sontak orang ramai tersebut meneriaki, mengolok, menertawakan, dan mencemooh anak kucing tersebut.
Tak lama kemudian tiba-tiba langit berubah mendung dan gelap petir menyambar dimana-mana hujan batu pun turun seketika itu juga perkampungan tersebut berubah menjadi sebuah bukit yang diberi nama bukit Sebomban.

Sampai sekarang orang Dayak Mayau masih mengingat peristiwa ini dan memegang kepercayaan bahwa Pamali (pantang) menertawakan binatang terutama kucing.

Asal Usul Suku di Pulau Lembata

pulau Lembata

Lembata, pada awalnya bernama pulau Lomblen dan pulau Kewula. Kedua nama ini dijuluki oleh Belanda melalui politik dagangnya yaitu VOC (Verenigde Oost Indice Companny). Pulau ini pernah difoto oleh Belanda dan sampai sekarang foto tersebut masih tersimpan di kantor Camat Atadei (salah satu kecamatan di selatan kabupaten Lembata). Dalam perjalanan sejarah pulau ini terus berubah nama menjadi Lembata, nama ini diberi oleh Alm. Yan Kia Poli, pada saat diadakannya MUBESRATA (Musyawarah Besar Rakyat Lembata) pada tanggal 7 Maret 1976 di Lewoleba, dan kemudian diresmikan oleh mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur El Tari. Nama Lembata dipakai sampai sekarang.

Lahirnya pulau Lembata diperkirakan pada tahun 1400 ketika terjadi zaman Gletzer yaitu zaman dimana mencairnya es di kutub sehinga banyak pulau yang tenggelam dan kemudian penduduknya migran ke berbagai daerah untuk mencari tempat tinggal yang baru. Dalam penuturan sejarah dari Leo Boli Ladjar (alm), orang Lembata sebenarnya bermigran dari dua pulau yaitu pulau Lapang dan pulau Batang yang terletak dibagian barat Kabupaten Alor Lapang dan Batang (dua pulau kosong tak berpenghuni) yang terletak di bagian barat pulau Alor dan bagian timur ke utara dari pulau Lembata. Lepanbata atau Lapang dan Batang menurut orang Alor adalah dua buah pulau tak berpenghuni. Lapang artinya datar/rata seperti lapangan sedangkan Batang artinya tinggi. Kedua pulau ini memiliki kekayaan alam yang tak akan habisnya yaitu rumput laut yang kini menjadi primadona orang Alor.

Menurut Leo, ketika masyarakat ini migran karena tenggelamnya sebahagian pulau Lapang dan Batang (air laut naik), orang Lembata dalam penjelajahannya untuk mencari tempat baru sebagai tempat tinggal, mereka menemukan pulau Lomblen/Kewula atau Lembata sekarang, yang merupakan pulau yang baru muncul bersama pulau Kangge, Rusa dan Kambing, yang kini menjadi wilayan pemerintahan kabupaten Alor. Dalam perjalanannya dari pulau Lapang dan Batang (Lepanbata) ke arah utara menelusuri laut mereka tinggal dan menetap pertama kali di Wairiang, kemudian ke arah utara dan mendiami Edang Aya Wei Laong di Ramu tempat yang terletak diantara Leo Hoeq, Atarodang dan Maramu dekat Leuwayang.

Sebagian lagi menelusuri wilayah bagian selatan dan utara, mereka tiba pertama kali di Noni wilayah Hobamatang Leuhapu yang kini telah berganti nama menjadi Mahal I dan Mahal II. Mereka yang menetap di sini kemudian mencari daerah yang lebih aman tapi subur, lalu mereka menemukan tempat yang bernama Payong Koto Manu lalu pindah ke Perung Peu Obu Hobamatang, yang kemudian menurunkan:
  • suku Odelwala
yang menetap di sana sampai sekarang.

Sementara mereka yang meneruskan perjalanannya menuju ke Wuyo Kape naik ke Balurebong dan menyebar ke barat dan menetap di wilayah Atakowa dengan keturunannya sampai sekarang menyandang:
  • suku Kowa Lama Botung
Mereka ini memiliki kebudayaan daerah yang cukup unik dan terkenal sampai sekarang adalah Beku.

Dari Wuyo Kape sebahagian lagi berjalan menelusuri dan mencari wilayah yang labih aman dan subur, mereka menuju ke wilayah Bobu sebahagian ke Lamatuka kemudian menurunkan:
  • suku Lajar
  • suku Lazar
  • suku Loyor 
di Ude Hadakewa. 

Yang lainnya meneruskan perjalanannya ke Waiteba, lalu ke Watutena, Bota Harpuka dan Paugora (Panggorang menurut orang Alor), dan sebagian lagi menuju ke Tanjung Atadei wutun (sekarang menjadi nama kecamatan Atadei di kabupaten Lembata), terus ke Lamanunang. Mereka juga menetap di sini dengan memiliki kebudayaan yaitu Are. Lalu ada yang ke Watuwawer menetap dan memiliki kebudayaan yang disebut Ahar. Budaya ini mempunyai upacara yang unik yaitu setiap bayi yang baru lahir entah laki atau perempuan wajib memasuki rumah adat yang disebut dengan upacara Tule Ahar. Di sana juga menetap:
  • suku Lera Lama Dike (Lejap)
  • suku Koba Lama Wale (Koban dan Waleng)
  • suku Tuka Lama Roning (Tukan dan Roning)
  • suku Lajar Lamabua (Lajar),
dengan budaya adatnya yang cukup terkenal yaitu Kolewalan.

Ada penduduk yang berjalan dan melintasi pantai Waibura dan mendiami Pedalewu di Lewalang dekat gunung Mauraja, Adowajo dan Petrus Gripe, Luhtobe dan Penutuk, lalu mereka mendaki ke Lamaheku, ada yang ke Lewokoba, yaitu:
  • suku Hekur

lalu ada yang menuju ke Laba Lewu di Namaweka lalu pindah ke Lite yang sekarang menurunkan:
  • suku Naya Hekur
  • suku Bala Hekur

Sementara yang menguasai Lamaheku adalah:
  • suku Koli Lolon
  • suku Pukai Lolon
  • suku Lewogromang

Sementara mereka yang ke Mirek Puken adalah:
  • penduduk Kayuaman
  • penduduk Atalajar
(mereka ini yang keturunannya ada yang menetap di kecamatan Pantar barat Laut/pulau Kangge) yang tinggal di leher gunung Mauraja.

Sebahagian lagi berlayar dengan perahu menuju ke Mulandoro sementara yang lainnya terus ke Labala. Yang turun di Mulandoro terbagi dua yaitu ada yang menetap di Mulandoro yang kemudian menurunkan:
  • penduduk Mulan Lama Gali,

sedangkan yang lain berjalan mendaki ke gunung menetap di Atawolo dengan:
  • penduduknya Atalaya Lew Nuban

Ada yang menetap di Labala tetapi ada sebahagian penduduk menuju ke Smuki dan Snaki terus ke Lewuka dan Udak. Di sana ada:
  • suku Soriwutun,
yang sebenarnya bersaudara dengan:
  • suku Laya Lama Bua 
atau
  • suku Atalaya Soriwutun,
keturunannya bersaudara dengan:
  • suku Lajar di Waiwejak (desa Nubahaeraka).
dan suku Atalaya Soriwutun, masih masih bersaudara juga dengan:
  • suku Atalaya Blikololon
  • suku Loyor,
yang mendiami desa Atalojo sekarang di kecamatan Atadei.

Sementara itu yang lain meneruskan perjalanan mereka ke Nuhalela, Lamalera dan Lamabaka dan menyebar ke seluruh wilayah Lembata. Ketika tejadi peristiwa Awololon (pulau di depan kota Lewoleba) tenggelam, maka penduduknya menyebar ke Lembata, Adonara, Solor, pulau Babi dan pulau Palue (Maumere), Wailamung dan Bogonatar (perbatasan Larantuka dengan kabupaten Sikka).

Hubungan Suku-suku
Sejumlah suku yang ketika migran terlebih dahulu membuat perjanjian untuk mengikat tali persaduaraan mereka. Perjanjian itu adalah menggunakan kata "Lama" dalam penamaan suku-suku yang di bawa oleh mereka. Maka semua suku pada waktu itu sepakat untuk menggunakan kata "Lama" pada suku mereka. Dengan demikian maka semua suku migran dari Lapang dan Batang menjadikan kata lama sebagai tali pengikat hubungan kekerabatan dan juga dapat mencari saudara mereka yang lain.

Suku-suku di Lembata, Adonara dan Solor menggunakan kata "Lama", yaitu:
  • Ruman Laba Bae
  • Likur Lama Koma
  • Wahen Lama Bera
  • Wayan Lama Holen
  • Lida Lama Loru
  • Matan Lama Mangan
  • Kape Lama Bura
  • Witing Lama Hingan
  • Hapu Lama Boleng
  • Hoe Lama Dike
  • Lera Lama Dike
  • Kowa Lama Botung
  • Nila Mani Tolo
  • Tolo Lama Ile
  • Watun Lama Gute
  • Laya Lama Bua (Lajar, layar, Lazar, Loyor)
  • Naki Uma Lama Dayo
  • Koba Lama Waleng
  • Tuka Lama Roni
  • Wolo Lama Doro
  • Mulang Lama Gali
  • Ura Lama Dayo
  • Bakan Lama Wala
  • Liwo Lama Rebong
  • Resa Lama Doro
  • Wuwur Lama Tangen
  • Boleng Lama Hodung
  • Wutun Lama Doan
  • Lama Blawa, Lama Helan
  • Lamaheku, Lama Ole
  • Lamalera
  • Lamanepa (Lama Nepa)
  • Lama Tonu Mata

Suku-suku Lain:
  • Paji
  • Demong

Suku Terbesar:
  • Kedang
  • Lamaholot

Sebagai seorang pelaku sejarah Leo Boli Ladjar (alm) (pensiun dan menetap di kalikasa ) dipercayakan oleh Raja Labala Ibrahim Baha Mayeli, bersama Opas Fransiskus Boli Kolin dari Lamaheku, kecamatan Atadei, mengikuti rapat di Hadakewa yang dipimpin oleh Yan Kia Polly. Pertemuan dilakukan di sebuah gedung sederhana di Hadakewa untuk menyusun staregi perjuangan rakyat Lomblen yang berawal dari statement 7 Maret 1954. Rapat dimulai sekitar pukul 14.00 atau jam 2 soreh. Pemimpin rapat Yan Kia Polly, sekretaris Polus Magun dari Lelalein. Belau ini keluaran dari Makasar dan karena tulisannya juga bagus. Beliau meliput rapat dengan menggunakan tulisan stenograf.

Dikisahkan Leo, yang memimpin rapat adalah Yan Kia Polly dengan berpakaian baju hijau lengan pendek, dan ber-ban dipinggangnya sementara Opas Boli Kolin dan Leo Boli Ladjar (penutur sejarah ini) duduk di sebelah selatan sedangkan pemimpin rapat di bagian timur. Pemegang amanat rakyat Lomblen adalah Yan Kia Polly bukan orang lain. Selain itu hadir Kepala Hamente Kedang Dia Sarabiti datang dengan mengendarai seekor kuda jantan merah berkaki putih. Peserta rapat yang sempat saya kenal pada waktu itu antara lain Yan Kia Polly, serta kepala kampung dan tua-tua yang hadir pada waktu itu yang mendapat kepercayaan dari wilayah Paji dan Demong. Wilayah Paji meliputi Labala, Kawela, Lewotolok dan Kedang, sementara wilayah Demong meliputi Lewoleba dan Hadakewa.

Wilayah Paji itu antara lain Hamente Labala ibukotanya Labala dengan rajanya Ibrahim Baha Mayeli. Hamente Kawela ibukota Belang dengan rajanya Kapitan Arap. Hamente Lewotolok dikepalai oleh Kapitan Solang dengan ibukotanya Lewotolok. Hamente Kedang ibukotanya Kalikur dengan kepala Hamentenya kapitan Dia Sarabiti. Sedangkan wilayah Demong meliputi Lamalera ibukotanya Lamalera dengan Kepala Hamentenya Kakang Bao dan Hamente Lewoleba dengan ibukotanya Hadakewa yang dikepalai oleh Atahala Hadung.

sumber: