Showing posts with label Dayak. Show all posts
Showing posts with label Dayak. Show all posts

Sentawar, Kerajaan Dayak

Ternyata pada zaman dahulu orang Dayak pernah memiliki sebuah kerajaan besar yang bernama Kerajaan Sentawar. Kerajaan ini berpusat di daerah sekitar kecamatan Melak yang sekarang bernama Sendawar.

Situs Sentawar merupakan peninggalan bersejarah bagi Kerajaan Sentawar yang secara mitologi itu merupakan cikal bakal lahirnya suku-suku dayak di kabupaten Kutai Barat. Menurut legenda, Kerajaan Sentawar diperintah oleh seorang Raja bernama Tulur Aji Jangkat bersama sang permaisuri Mok Manor Bulatn. Mereka memiliki 5 orang anak, yang menurunkan suku-suku Dayak, yaitu:
  • Sualas Gunaaqn (menurunkan suku Tunjung),
  • Jelivan Benaaq (menurunkan suku Bahau),
  • Nara Gunaa (menurunkan suku Benuaq),
  • Tantan Cunaaq (menurunkan suku Kenyah)
  • Puncan Karnaaq (menurunkan suku Kutai)

Raja Pertama adalah Tulur Aji Jangkat dan kemudian digantikan oleh puteranya yang pertama Sualas Gunaaq. Sualas Gunaaq yang merupakan cikal bakal lahirnya suku Dayak Tunjung menjadi raja ke 2 di Kerajaan Sentawar.
Kedua Putera Raja yaitu Puncan Karna dan Jelivan Benaaq pergi merantau dan menaiki perahu melewati sungai Mahakam. Puncan Karna menuju arah hilir sungai Mahakam dan sampai di daerah sekarang Tenggarong kemudian menikah dengan adik kandung Sultan di Tangga Arung (sekarang Tenggarong). Sedangkan Jelivan Benaaq bergerak ke arah hulu sungai Mahakam dan sampai di daerah yang bernama Tering dan menguasai daerah tersebut. Kemudian mereka beranak cucu di daerah mereka masing-masing.

sumberputratonyooi

Asal Usul Suku Dayak di Kapuas Hulu

suku Dayak di Kapuas Hulu
Di daerah kabupaten Kapuas Hulu Kalimantan Barat banyak dihuni beragam etnis dayak yang hidup dalam kelompok masing-masing dengan budaya dan tradisi yang telah berjalan lama sejak ratusan tahun bahkan mungkin ribuan tahun yang lalu.

Diduga kehadiran suku-suku Dayak di wilayah ini datang dalam 3 gelombang.
  1. Migrasi dalam gelombang pertama diperkirakan datang dari arah barat (kemungkinan berasal dari hilir sungai Kapuas dan anak-anak sungai, seperti sungai Sekayam, Ketungau dan Sekadau).
    Suku-suku Dayak tersebut adalah:
    - Seberuang,
    - Ensilat,
    - Iban,
    - Kantu’,
    - Tamanik,
    - Desa,
    - Sekapat,
    - Suaid,
    - Mayan,
    - Sebaru’,
    - Rembay, dan
    - Ulu ai’.
  2. Migrasi dalam gelombang kedua diperkirakan berasal dari arah timur daerah Data Purah, Apo Kayaan yang menghasilkan 3 suku Dayak yaitu:
    - Punan,
    - Buket dan
    - Kayaan Mendalam.
  3. Migrasi ketiga diduga juga berasal dari timur, yaitu sungai Kayaan. Kelompok ini tidak langsung ke Kalimantan barat, melainkan menuju sungai Mahakam kemudian menyebar ke hulu sungai Melawi. Dari hulu sungai melawi inilah kemudian menyebar lagi ke hulu sungai Manday, sungai Suru’, dan sungai Mentebah hingga ke Kapuas.
    Pada gelombang ketiga ini terdiri dari:
    - Orung Da’an,
    - Suru’ dan
    - Mentebah.

Gambaran migrasi kelompok suku Dayak di Kapuas Hulu pada hakikatnya tidak bersamaan waktu penyebarannya. Misalnya Dayak Iban yang dikelompokkan pada kelompok pertama, tidak langsung ke Kapuas Hulu tetapi kelompok ini memilih Sungai Batang Rejang di Malaysia. Setelah suku ini ditaklukkan oleh raja “white” Brooke, baru kemudian melakukan migrasi besar-besaran ke wilayah Kapuas Hulu. Sedangkan kelompok Dayak Sekapat, Sebaru’ dan Desa diyakini paling terakhir menyebar di kabupaten ini.

Gambaran penyebaran ini hakikatnya masih perlu di uji dan memerlukan kajian lebih lanjut.
Suku Dayak di kabupaten Kapuas Hulu atau seringkali disebut Dayak Ulu Kapuas keberadaanya sama dengan beberapa suku Dayak di kabupaten lain di Kalimantan Barat, yaitu sebagai penduduk asli pulau Kalimantan. Sebagai kelompok mayoritas suku Dayak di kabupaten ini diperkirakan sudah mendiami wilayah hulu sungai Kapuas ini sejak tahun 300-an, sebelum peristiwa perang antara manusia dengan roh halus di Tanah Tampun Juah yang menyebabkan “migrasi besar-besaran”.

suku Dayak Taman
Beberapa subsuku yang mengisahkan tentang asal-usul mereka dari Tampun Juah adalah Dayak Kantu’, Seberuang, dan juga Rembay. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai peristiwa sejarah dan perkembangannya, misalnya perluasan wilayah Kerajaan Sintang di Selimbau dan Semitau serta masa penjajahan Belanda.
Kelompok masyarakat dayak sebelum berdirinya panembahan-panembahan Kerajaan Sintang dan datangnya para penjajah, umumnya masih menganut agama leluhur mereka. Namun agama ini acapkali dianggap sebagai animisme, berhala, dan sebagainya. Kerajaan Sintang yang memperluas wilayah kekuasaannya dengan mendirikan panembahan-panembahan di wilayah hulu Kapuas juga menyebarkan agama Islam. Hal ini membuat kelompok suku Dayak dihadapkan pada pilihan sulit untuk menganut agama yang baru.
Agama Islam pada saat itu cukup berpengaruh seiring berdirinya kerajaan-kerajaan kecil yang berlandaskan Islam. Kelompok suku-suku Dayak dihadapkan pada pilihan “jika menganut agama Islam", kelompok suku Dayak terbebas dari perbudakan dan kewajiban membayar upeti kepada kerajaan. Namun tanpa disadari menganut agama Islam di Kalimantan Barat selalu diidentikkan dengan Melayu. Oleh karena itu, sadar atau tidak sadar terjadi penolakan jati dirinya. Dilihat dari aspek kultural kelompok Dayak yang telah menjadi muslim meninggalkan kultur budayanya dan meninggalkan identitas "dayak" nya, lama kelamaan sikap itu mengkristal sehingga melahirkan identitas baru yang disebut Senganan. Sedangkan yang tidak menerima Islam disebut sebagai "dayak" yang dimaknai sebagai kelompok masyarakat pribumi Kalimantan Barat non Muslim. Saat ini masyarakat Dayak sebagian besar telah memeluk agama Kristen tetap dengan status "dayak"nya.

Mengenai keragaman suku Dayak di Kapuas Hulu dari hasil penelitian lapangan yang telah dilakukan di seluruh wilayah kabupaten Kapuas Hulu adalah sebagai berikut:
  • Suaid, 
  • Kantu’, 
  • Seberuang, 
  • Kalis, 
  • Lau’, 
  • Suru’, 
  • Mentebah, 
  • Tamambalo, 
  • Ensilat, 
  • Mayan, 
  • Sekapat, 
  • Desa, 
  • Punan, 
  • Buket, 
  • Taman, 
  • Kayaan, 
  • Rembay, 
  • Sebaru’, 
  • Iban, 
  • Oruung Da’an.
  • Senganan (dayak muslim)

sumber:
- buku Mozaik Dayak “keberagaman subsuku dan bahasa Dayak di Kalimantan barat"
napannumut
- wikipedia
- peacedamaimembuatkitanyaman
- ceritadayak
- dan sumber lain

Asal Usul Suku Dayak Kayan

Suku Dayak Kayan, adalah penduduk asli pulau Kalimantan yang mendiami wilayah sebelah Timur Laut Kalimantan. Istilah "dayak" ditujukan untuk seluruh penduduk asli Kalimantan. Suku Dayak Kayan lebih sering menyebut diri mereka sebagai "Orang Ulu", sedangkan bagi mereka sendiri, istilah "dayak" ditujukan kepada kelompok etnis lain seperti Orang Iban dan Orang Bidayuh. Populasi suku Dayak Kayan diperkirakan lebih dari 30.000 orang yang tersebar di 2 negara, di Indonesia berada di Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat hingga ke Sarawak Malaysia. Suku Dayak Kayan sering juga disebut sebagai suku Dayak Apo Kayan.

Dari beberapa penelitian yang dilakukan oleh para peneliti sejarah dan anthropolog, bahwa suku Dayak Kayan dan suku Dayak Kenyah termasuk suku dayak tertua di Kalimantan, yang telah menghuni pulau Kalimantan sejak ribuan tahun Sebelum Masehi, yang diduga bermigrasi dari daerah selatan Cina atau mungkin dari Formosa.

Ada satu cerita dalam masyarakat suku Dayak Kayan, dikatakan bahwa dahulu seorang raja bernama Raja Akalura bersama pengikutnya datang dari Tiongkok menaiki 2 buah kapal menuju Kalimantan. Di perjalanan kelompok mereka terpisah. Kelompok pertama mendarat di Brunei, inilah yang menjadi orang Dayak Kayan, sementara kelompok satu lagi mendarat di cekungan Baram, menetap dan membangun pemukiman, kemudian dikenal sebagai orang Dayak Kenyah. Hal inilah mungkin sebab awal banyak ditemukannya persamaan antara suku Dayak Kayan dan suku Dayak Kenyah.

Sedangkan menurut pendapat lain, mengatakan bahwa perjalanan suku Dayak Kayan terjadi dalam 3 gelombang, yaitu:
  1. Gelombang 1 (abad 15): Apo Duat (Mat Murut dan Baram Sungai) dan Usun Apau (Balui dan Tinjar)
  2. Gelombang 2 (abad 16 hingga abad 18): Apau Kayan, Kayan River dan Bahau Sungai
  3. Gelombang 3 (abad 18 hingga abad 20): Malinau, Sesayap, Segah, Kelinjau, Telen, Wehea, Belayan, sungai Mahakam dan Mendalam. Beberapa ke Sarawak (Balui, Tinjar, Baram dan sungai Baleh)
Pada pertengahan abad 17 hingga 19, kelompok Dayak Kayan suka menyerang etnis lain secara brutal, dengan memburu kepala (headhunter) atau ayau kung. Mereka menempati lahan baru dari barat Sarawak sampai ke timur laut Kalimantan, menggusur penduduk setempat dan memberi nama tempat tersebut untuk menandakan kekuasaan mereka. Mereka bahkan terlibat perang dengan suku Suluk, suku Bajau dan suku Dayak Tidung Sabah.

Sedangkan etnis dayak lain yang bermukim di sekitar wilayah Mahakam (Kalimantan) ikut terdesak, seperti suku Dayak Ot Danum, Dayak Bukat, Dayak Penihing, Dayak Punan, Dayak Murut, Dayak Tunjung, Dayak Benuaq dan Dayak Maloh harus mundur ke daerah Barat dan ke wilayah Kalimantan Tengah, untuk menghindar dari kebrutalan suku Kayan. Sedangkan yang bertahan harus tunduk di bawah kekuasaan kelompok Kayan. Di utara Kalimantan Timur, Dayak Burusu (Brusu) dan Dayak Tenggalan terdesak ke pantai Timur Kalimantan setelah perluasan daerah kekuasaan kelompok Kayan. Banyaknya jumlah anggota kelompok Kayan yang ahli perang, mobilitas tinggi, dan sumber daya yang kaya, membuat kelompok Kayan berkuasa mutlak di Kalimantan Timur selama 300 tahun. Tapi Pemerintah Kolonial Belanda, tidak mengakui mereka sebagai pemerintahan kerajaan tersendiri. Oleh Belanda mereka hanya dianggap sebagai suku primitif karena tidak memiliki wilayah kerajaan yang menetap, dibandingkan dengan Kesultanan Brunei, Kutai, Bulungan, Berau dan Tidung.

Kelompok Kayan Kayan terdiri dari 3 sub suku, yang terbagi menurut bahasa:
  1. Suku Dayak Ga'ay / Mengga'ay,  asal nama berasal dari pedang "gay", kata gay, berarti "mandau" yang digunakan dalam pengayauan (mengayau). Versi lain menyebutkan nama ga'ay, berasal dari bahasa Kenyah Lepo Tau yang menyebut orang-orang ini "ba'ay", yang berarti orang yang tinggal di muara sungai. Panjang Glat, Long Huvung Lama dan Keliway. Seloy / Falun Kiya: n dan Ba'un panjang oleh Sungai Kayan. Long Way spt: Long Nah, Melean, dan bentuk panjang oleh mulut Ancalong tersebut. Panjang La'ay Dan Ayan Panjang Sungai Segah.
  2. Suku Dayak Kayan, istilah "kayan", yang berarti "ini adalah tanah kami", mereka hidup kebanyakan di sekitar sungai Baram. Kelompok di Kalimantan Timur, "Suling, Uma Uma Lekwe, Uma 'Tua: n, Uma Wak, Uma' Laran, Uma Lekan dan lain-lain. Kelompok di Kalimantan Barat, Uma 'Aging, Uma Pagung', dan lain-lain. Kelompok di Sarawak, Sungai Balui, Sungai Baram, Sungai Tinjar dan lain-lain. Sebuah kelompok kecil menyebut diri (Kayan) Busang, nama diadopsi sebelum migrasi mereka ke Kayan Apau.
  3. Suku Dayak Bahau, menurut Kenyah, kata berasal dari kata "baw", yang berarti tinggi (dataran), dimana Bahau dulu tinggal di Baram sebelum bermigrasi. Kelompok Bahau: Hwang Tring, Hwang Siraw, Hwang Ana, dan Hwang Boh di Mahakam. Ngorek, Lalu Pua 'Sungai Kayan, dan suku Merap di Malinau.

Ekspansi kelompok Kayan, mempengaruhi banyak kelompok etnis lain yang menjadi Kayanized, seperti suku Dayak Melanau dan suku Dayak Murut. Di Mahakam, terdapat 2 kelompok Kayan, yaitu: suku Dayak Kayan Amoh (Kayan Salah) dan suku Dayak Kayan Laan (Kayan Benar). Suku Dayak Kayan Amoh sebenarnya adalah suku Dayak Murut yang terakhir menyebut diri mereka juga sebagai suku Dayak Kayan.

sumber:

Legenda Bukit Sebomban (Dayak Mayau)


Pada suatu ketika, hidup seorang nenek dengan cucunya mereka tinggal di dalam hutan jauh dari perkampungan di sebuah gubuk reot. Mereka hidup dikucilkan oleh orang kampung karena orang kampung tidak suka melihat mereka berdua. Sang nenek dan si cucu hidup dari hasil hutan dengan peratan dan perkakas apa adanya.

Cerita ini bermula ketika orang kampung mengadakan pesta Gawai Panen Padi selama 7 hari 7 malam karena panen yang mereka dapat tahun ini melimpah ruah. Mereka mengundang kampung tetangga dari 4 penjuru untuk datang menghadiri Pesta Gawai yang diadakan oleh orang kampung. Tapi satu kesalahan terjadi, mereka tidak mengundang sang nenek dan sang cucu (karena adat istiadat pada zaman itu apabila mengadakan gawai semua orang harus diundang ke dalam pesta tersebut kalau tidak akan mendapat petaka).

Pada suatu hari pergilah sang cucu tersebut ke kampung karena mendengar kabar bahwa orang kampung mengadakan pesta gawai dari orang-orang kampung tetangga berangkat ke pesta gawai. Si cucu maklumlah masih kecil maka dia pun berangkat menghadiri pesta tersebut tetapi sesampai di sana bukannya kemeriahan yang dia dapat tetapi si cucu mendapat perlakuan yang kasar dari orang kampung, dicemooh dan diusir. Dengan perasaan sedih dia pulang menemui neneknya dan menceritakan perlakuan orang kampung kepada neneknya. Sang nenek sedih hatinya mendengar cerita cucunya. Karena kasihan kepada cucunya lalu sang nenek menyuruh sang cucu kembali lagi ke kampung, barangkali ada orang kampung yang mau menaruh perhatian kepada mereka.
Akhirnya sang cucu pun menuruti keinginan neneknya untuk kembali ke kampung tapi apa yang terjadi perlakuan orang kampung sama seperti yang sudah-sudah, malah lebih kasar lagi layaknya seperti binatang dengan memberi si cucu tersebut dengan daging yang terbuat karet (latek)yang rasanya hambar dan alot. Si cucu membawa daging tersebut pulang kepada neneknya, sesampai di gubuk si cucu menyerahkan daging pemberian orang kampung tersebut kepada neneknya dan nenek itu memakan daging pemberian si cucu, tapi daging tersebut sangat alot. Ssetelah tahu bahwa daging pemberian orang kampung tersebut palsu maka murkalah sang nenek dan berkata "Celakalah orang kampung karena telah memperlakukan kita seperti binatang", geramnya.

Lalu sang nenek menyuruh si cucu untuk pergi lagi ke kampung dengan membawa seekor anak kucing yang didandani layaknya seperti manusia dengan sarung parang di pinggangnya dan menyuruh melepaskan anak kucing tersebut di tengah orang ramai. Si cucu pun mengikuti perintah sang nenek dan melaksanakan apa yang diperintahkan sang nenek si cucu melepaskan anak kucing tersebut ke tengah orang ramai dan ketika orang ramai tersebut melihat anak kucing tersebut sontak orang ramai tersebut meneriaki, mengolok, menertawakan, dan mencemooh anak kucing tersebut.
Tak lama kemudian tiba-tiba langit berubah mendung dan gelap petir menyambar dimana-mana hujan batu pun turun seketika itu juga perkampungan tersebut berubah menjadi sebuah bukit yang diberi nama bukit Sebomban.

Sampai sekarang orang Dayak Mayau masih mengingat peristiwa ini dan memegang kepercayaan bahwa Pamali (pantang) menertawakan binatang terutama kucing.

Rumpun Dayak Ot Danum


Rumpun Dayak Ot Danum, menurut versi Tjilik Riwut, Gubernur Pertama Provinsi Kalimantan Tengah. Versi ini berbeda dengan versi rumpun dayak yang sering ditampilkan di beberapa situs di web. Versi rumpun Dayak oleh Tjilik Riwut ini, adalah yang pertama dipublikasi pada sebuah buku hasil karya Tjilik Riwut sendiri. Dari ini lah kemudian dijadikan pedoman dan sumber referensi berbagai tulisan di media, serta berkembang menjadi beberapa versi lain mengenai rumpun Dayak.

Rumpun Dayak Ot Danum terdiri atas 61 suku:
  • Asa
  • At Bunusu (Ot Bunusu)
  • At Danun (Ot Danun)
  • At Siang (Ot Siang0
  • Babuat
  • Banyau
  • Desa
  • Duhai
  • Ellah
  • Embaloh
  • Ginih
  • Gunung Kambang
  • Iban
  • Jambung Jaman
  • Jampal
  • Jungkau
  • Kalang Lupu
  • Kalis
  • Kayan Danum
  • Kebosan
  • Keninjal
  • Kenyilu
  • Keramai
  • Kuhin
  • Lacur
  • Lauk
  • Lebang
  • Lebanyan
  • Limbei
  • Linuh
  • Linuh Pudau
  • Mandai Suruk
  • Mentebah
  • Muntak
  • Nanga
  • Nyahing Uhing
  • Nyangai
  • Palan
  • Palin
  • Pananyari
  • Pananyui
  • Pandau
  • Pangin
  • Payah
  • Penangkuwi
  • Rahan
  • Ransa
  • Rarai
  • Sahiei
  • Sebaung
  • Seberuang
  • Serawai Danun
  • Silang
  • Tahin
  • Tahup
  • Taman Danun
  • Taman Sibau
  • Tawahui
  • Tebidah
  • Ulun Daan
  • Undan

sumber:
  • Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat 1975
  • gambar-foto: pariwisatamura.blogspot.com
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Rumpun Dayak Ngaju


Rumpun Dayak Ngaju, adalah suatu kelompok suku, yang terdiri dari puluhan suku-suku dayak yang dikelompokkan ke dalam rumpun Dayak Ngaju. Sebagian besar suku-suku yang termasuk ke dalam rumpun Dayak Ngaju berpusat di provinsi Kalimantan Tengah. Sedangkan beberapa lainnya berada di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat. Kata ngaju bisa berarti hulu atau bisa berarti kampung.

Rumpun Dayak Ngaju, terdiri dari:
  • Alai 
  • Amandit 
  •  Arut  
  • Bajau
  •  Bakumpai  
  • Balanga 
  • Balantikan 
  • Bara Je 
  • Bara Nio 
  • Bara Nyet 
  • Bara Raden (Mangkatip) 
  • Bara Urik 
  • Baradia
  • Barahayan 
  • Baraki 
  • Baranarai / Barune 
  • Barangas 
  •  Batangkawa  
  • Bawa
  • Bawa Adeng 
  • Bentian 
  • Bukit 
  • Bulik 
  • Kahayan 
  • Kali 
  • Kapuas 
  • Katingan
  • Kayu Tangi 
  • Kuwing 
  • Labuhan Amas 
  • Lalang 
  • Lamandau 
  • Lampeang / Balai 
  • Lantu Ung 
  •  Maanyan  
  • Maanyan Pantai
  • Maanyan Paku
  • Maanyan Jangkung
  • Maanyan Paju
  • Maanyan Benua Lima
  • Maanyan Paju Empat
  • Mendawai 
  • Mengkatip 
  • Mentabi
  • Mentaya
  • Mentebah 
  • Murung   
  • Pananyui 
  • Pasir 
  • Purrui 
  • Purung 
  • Ritap 
  • Sembuluh 
  • Seruyan 
  • Taboyan Teweh 
  • Tapin 
  •  Tamuan  
  • Tebilun 
  • Tungka Ngaju 
  • Ulang 

sumber : 
  • Sejarah Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalimantan Barat 1975
  • melawikab.go.id
  • wikipedia
  • dan sumber lain

Rumpun Dayak


Suku Dayak, adalah penduduk asli pulau Kalimantan yang tersebar di seluruh pulau Kalimantan (Brunei, Malaysia dan Indonesia), selain itu suku Dayak juga terdapat di pulau-pulau pesisir sebelah utara pulau Kalimantan, hingga ke kepulauan Sulu Filipina. Masyarakat Dayak pada umumnya lebih memilih untuk menetap di tepian sungai-sungai dan danau.

Suku Dayak terdiri dari 6 Rumpun dan lebih dari 405 Suku

Kalimantan Tengah
  • Arut
  • Bakumpai
  • Batangkawa
  • Bawo
  • Belantikan
  • Blaman 
  • Bulik 
  • Darat 
  • Delang - sub suku: Delang Ulu dan Delang Ilir 
  • Didang 
  • Dohoi 
  • Dusun 
  • Dusun Malang 
  • Dusun Pepas 
  • Dusun Bayan 
  • Dusun Witu 
  • Gambu 
  • Jelai 
  • Kadorih 
  • Kahayan 
  • Kali 
  • Kapuas 
  • Katingan 
  • Ketungan (Ketung) 
  • Kohin 
  • Kuhin 
  • Lamandau 
  • Lawangan 
  • Maanyan
  • Mendawai 
  • Mengkatip (Mangkatip) 
  • Mentobi 
  • Murung (Siang Murung) 
  • Ngaju 
  • Ot Danum
  • Ot Olong-Olong 
  • Ot Pari 
  • Ot Saribas 
  • Paku 
  • Punan Merah (Ot Siauw) 
  • Punan Murung
  • Punan Panyawung (Ot Penyaung) 
  • Ruku Mapan 
  • Sampit 
  • Siang (Ot Siang) 
  • Tamuan
  • Tawoyan (Taboyan) 
  • Tomun
  • Ulang 

Kalimantan Timur
  • Abai 
  • Agabag
  • Ampanang 
  • Bahau
  • Basap
  • Bentian 
  • Benuaq 
  • Berusu (Brusu, Burusu, Belusu)
  • Bulungan 
  • Gaai (Segai) 
  • Kayan Busang 
  • Kayan Mahakam 
  • Kayan Sungai Kayan 
  • Kayan Wahau 
  • Kenyah Pusat 
  • Kenyah Wahau 
  • Kerayan 
  • Kutai Hulu 
  • Lebu' Kulit 
  • Lengilu 
  • Lundayeh 
  • Modang 
  • Murut-Selungai Murut 
  • Okolod 
  • Paser
  • Punan Aput 
  • Punan Basap 
  • Punan Batu
  • Punan Bukat (Dayak Bukat) 
  • Punan Kelay
  • Punan Merah (Ot Siau) 
  • Punan Merap 
  • Punan Penihing (Dayak Aoheng, Dayak Penihing) 
  • Punan Sajau 
  • Punan Tubu 
  • Putoh 
  • Sajau Basap 
  • Segah 
  • Seputan 
  • Tagel 
  • Tenggalan (Tengalan, Tingalan) 
  • Tidung 
  • Tunjung 
  • Uma’ Lung 
  • Wehea

Kalimantan Barat
  • Ahe 
  • Air Durian 
  • Air Upas 
  • Angan
  • Babak 
  • Badat 
  • Bakati’
  • Bakati' Rara
  • Bakati' Riok
  • Bakati' Sara 
  • Banjur 
  • Banyadu (terdapat juga di Formosa, Taiwan) 
  • Barai 
  • Batang Lupar 
  • Batu Entawa 
  • Batu Payung 
  • Batu Tajam (Dayak Pesaguan Kiri) 
  • Baya 
  • Benatuq 
  • Beginci
  • Bekidoh 
  • Belaban 
  • Benawas 
  • Beriam 
  • Bihak
  • Bohokam 
  • Bubung
  • Bundu 
  • Bugau
  • Bukitan (terdapat juga di Sarawak Malaysia) 
  • Butok 
  • Cohie 
  • Dalam 
  • Darok (Dayak Daro') 
  • Damea 
  • De'sa
  • Dohoi 
  • Dosan 
  • Ella 
  • Embaloh (Dayak Tamambaloh, Dayak Maloh) 
  • Embau (menjadi melayu) 
  • Empayeh 
  • Engkarong 
  • Ensanang 
  • Galik 
  • Gerai 
  • Gerunggang 
  • Goneh 
  • Gulik’g 
  • Gun
  • Hovongan 
  • Ingar Silat 
  • Jagoi 
  • Jangkang
  • Jalai (Jelai) 
  • Jawant
  • Joka’
  • Kahoi 
  • Kalis
  • Kanayatn (Orang Kedayan) 
  • Kancikng 
  • Kantu'
  • Kayaan
  • Kayaan Mendalam
  • Kayong
  • Kebahan (Dayak Kebahn) 
  • Kebuai 
  • Kede 
  • Kekura’ 
  • Keluas
  • Kembayan 
  • Kendawangan
  • Keninjal 
  • Kenyilu
  • Kengkubang 
  • Kepuas 
  • Kerabat
  • Kerambai
  • Kereho 
  • Ketungau Banyur 
  • Ketungau Sekadau (Dayak Sesat, Dayak Sesae') 
  • Ketungau Sintang
  • Keninjal 
  • Kolangan 
  • Koman 
  • Komi/ Domit 
  • Konyeh 
  • Kopak 
  • Kowotn (Dayak Bengkawan) 
  • Koyon 
  • Krio
  • Kualant Semanangk 
  • Kualantn
  • Kubitn
  • Lamantawa 
  • Laur 
  • Lara 
  • Lebang Nado 
  • Lebang Hilir 
  • Lebang Hulu 
  • Liboy 
  • Limbai
  • Linoh (Linuh) 
  • Lintang 
  • Mayao (Mayau, Majau) 
  • Melahoi (Malahui, Malahoi) 
  • Mahap
  • Mali
  • Marau (Merau) 
  • Membuluq (Membulu) 
  • Menggaling 
  • Mentebah 
  • Menyaya 
  • Menyangka 
  • Menyuke 
  • Mualang
  • Muara 
  • Muduh 
  • Muluk 
  • Mugut (terdapat juga di Serawak) 
  • Nanga 
  • Ngabang 
  • Ngalampan 
  • Ngamukit 
  • Nganayat 
  • Nyadu (Nyadupm) 
  • Orung Daan 
  • Ot (Ote) 
  • Ot Siau
  • Ot Penyaung (Ot Panyawung) 
  • Pandu 
  • Pangin 
  • Pangkalan Suka 
  • Pangkodatn 
  • Panu 
  • Papak 
  • Parangkunyit 
  • Pawan 
  • Pawatn
  • Payak 
  • Pebantan (Dayak Pangkalan Suka) 
  • Pelanjau 
  • Pengkedang 
  • Penyarangan 
  • Perigiq 
  • Pesaguan 
  • Pompakng
  • Pos 
  • Punan
  • Punan Hovongan
  • Punan Uheng Kereho (Ot Nyawong, Dayak Seputan) 
  • Punti (Dayak Pontent), terdapat juga di Sabah Malaysia 
  • Randu (Randuk) 
  • Ransa
  • Riam 
  • Ribun (Hibun) 
  • Sajan 
  • Sane (Sani) 
  • Sanggau 
  • Sango 
  • Sapatoi (Dayak Bung Pah Tung) 
  • Saribas 
  • Sebaru' (Sebaruk) 
  • Sebaung 
  • Seberuang
  • Sekajang 
  • Sekakai 
  • Sekapat
  • Sekayam 
  • Sekubang 
  • Sekujam 
  • Selayang 
  • Selako 
  • Selawe 
  • Selimpat 
  • Semandang-Samanakng 
  • Semitau 
  • Sempadian 
  • Senangkan (Senangkat'n) 
  • Senganan 
  • Senunang 
  • Sikukng (Sungkung) 
  • Silath Muntok 
  • Simpakng 
  • Sisakng
  • Sontas (terdapat juga di Serawak) 
  • Suhaid (Suaid) 
  • Sumanjawat 
  • Suru (Suruk, Suruh) 
  • Suti
  • Tabuas 
  • Tabun 
  • Tadietn (Tadatn, Tadan) 
  • Taman 
  • Tameng (Tamong) 
  • Tanjung 
  • Tawaeq (Tawang) 
  • Tayap Hulu 
  • Tebang, sungai Kualatn 
  • Tebidah 
  • Tengon (Bi Hngon, Dayak Bidayuh Kumba) 
  • Tingui
  • Toba (Toba', Dayak Tebang di sungai Tayan dan Dayak Cempede') 
  • Tola'
  • Undau 
  • Uud Danum
  • Uud Sio (terasing dan primitif) 
  • Uud Bukhot (terasing dan primitif) 

Kalimantan Selatan
  • Abal
  • Bakumpai
  • Bangkalaan 
  • Banjar Hulu 
  • Baraki
  • Barangas
  • Bukit 
  • Balangan (Dayak Dusun Balangan) 
  • Dusun Deyah 
  • Halong
  • Meratus
  • Pitap
  • Samihim 
  • Warukin
  • Hantakan, di kecamatan Hantakan, Hulu Sungai Tengah 
  • Haruyan, di kecamatan Haruyan, Hulu Sungai Tengah 
  • Loksado, di kecamatan Loksado, Hulu Sungai Selatan 
  • Piani, di kecamatan Piani, Tapin 
  • Paramasan, di kecamatan Paramasan, Banjar 
  • Riam Adungan, di kecamatan Kintap, Tanah Laut 
  • Bajuin, di kecamatan Pelaihari, Tanah Laut 
  • Sampanahan, di kecamatan Sampanahan, Kotabaru 
  • Labuhan 
catatan: * : punah/ nyaris punah


Sabah, Malaysia
  • Abai Sungai 
  • Bisaya, Sabah 
  • Bonggi 
  • Bookan 
  • Dumpas 
  • Dusun Segama 
  • Dusun Sugut 
  • Dusun Tambunan 
  • Dusun Tempasuk 
  • Dusun Tindal 
  • Dusun Tobilung 
  • Dusun Tombonuo 
  • Dusun Tengah 
  • Gana 
  • Ida'an (Idaan, Idahan) 
  • Iranun 
  • Kadazan, Coastal
  • Kadazan, Klias River 
  • Kadazan, Labuk-Kinabatangan 
  • Kalabakan 
  • Keningau Murut 
  • Kimaragang 
  • Kimensi 
  • Kinabatangan, Upper 
  • Kota Marudu Talantang 
  • Kota Marudu Tinagas 
  • Kuijau 
  • Labuk 
  • Lobu Lanas (Lobou Lanas) 
  • Lobu Tampias (Lobou Tampias) 
  • Lotud 
  • Minokok 
  • Paluan 
  • Papar 
  • Rungus
  • Serudung Murut 
  • Tagal Murut 
  • Tatana 
  • Timugon Murut 

Sarawak, Malaysia
  • Bakati’ Rara
  • Balau 
  • Bemali (Bah Mali) 
  • Berawan Tengah 
  • Berawan Timur 
  • Berawan Barat 
  • Bidayuh, Bau 
  • Bidayuh, Biatah 
  • Bidayuh, Bukar-Sadong 
  • Bidayuh, Tringgus-Sembaan 
  • Bintulu 
  • Bukitan (terdapat juga di Kalimantan Barat) 
  • Iban (daerah Kuching) 
  • Iban Dau 
  • Iban Lemanak 
  • Iban Sibu 
  • Iban Skrang 
  • Iban Ulu Ai 
  • Iban Undup 
  • Jagoi 
  • Kajaman 
  • Kayaan 
  • Kayan Baram 
  • Kayan Murik 
  • Kayan Rejang 
  • Kelabit 
  • Kiput 
  • Lahanan 
  • Lelak 
  • Long Wat 
  • Lun Bawang 
  • Melanau Tengah 
  • Melanau Daro-Matu 
  • Melanau Kanowit-Tanjong 
  • Melanau Sibu 
  • Merau 
  • Murik 
  • Narom 
  • Punan Bah
  • Penan Timur 
  • Penan Barat 
  • Punan Batu 1 
  • Remun 
  • Sa’ban 
  • Saribas 
  • Sebop 
  • Sebuyau 
  • Sekapan 
  • Seping
  • Seru 
  • Sian 
  • Tobak 
  • Tring 
  • Tumbang Pauh 
  • Punan Ukit (Dayak Bukitan, Dayak Beketan) 
  • Uma’ Lasan 

Brunei
  • Belait 
  • Bisaya, Brunei 
  • Orang Bukit/ Kendayan 
  • Tutong 

Filipina