Showing posts with label Nusa Tenggara Timur. Show all posts
Showing posts with label Nusa Tenggara Timur. Show all posts

Asal Usul Suku di Pulau Lembata

pulau Lembata

Lembata, pada awalnya bernama pulau Lomblen dan pulau Kewula. Kedua nama ini dijuluki oleh Belanda melalui politik dagangnya yaitu VOC (Verenigde Oost Indice Companny). Pulau ini pernah difoto oleh Belanda dan sampai sekarang foto tersebut masih tersimpan di kantor Camat Atadei (salah satu kecamatan di selatan kabupaten Lembata). Dalam perjalanan sejarah pulau ini terus berubah nama menjadi Lembata, nama ini diberi oleh Alm. Yan Kia Poli, pada saat diadakannya MUBESRATA (Musyawarah Besar Rakyat Lembata) pada tanggal 7 Maret 1976 di Lewoleba, dan kemudian diresmikan oleh mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur El Tari. Nama Lembata dipakai sampai sekarang.

Lahirnya pulau Lembata diperkirakan pada tahun 1400 ketika terjadi zaman Gletzer yaitu zaman dimana mencairnya es di kutub sehinga banyak pulau yang tenggelam dan kemudian penduduknya migran ke berbagai daerah untuk mencari tempat tinggal yang baru. Dalam penuturan sejarah dari Leo Boli Ladjar (alm), orang Lembata sebenarnya bermigran dari dua pulau yaitu pulau Lapang dan pulau Batang yang terletak dibagian barat Kabupaten Alor Lapang dan Batang (dua pulau kosong tak berpenghuni) yang terletak di bagian barat pulau Alor dan bagian timur ke utara dari pulau Lembata. Lepanbata atau Lapang dan Batang menurut orang Alor adalah dua buah pulau tak berpenghuni. Lapang artinya datar/rata seperti lapangan sedangkan Batang artinya tinggi. Kedua pulau ini memiliki kekayaan alam yang tak akan habisnya yaitu rumput laut yang kini menjadi primadona orang Alor.

Menurut Leo, ketika masyarakat ini migran karena tenggelamnya sebahagian pulau Lapang dan Batang (air laut naik), orang Lembata dalam penjelajahannya untuk mencari tempat baru sebagai tempat tinggal, mereka menemukan pulau Lomblen/Kewula atau Lembata sekarang, yang merupakan pulau yang baru muncul bersama pulau Kangge, Rusa dan Kambing, yang kini menjadi wilayan pemerintahan kabupaten Alor. Dalam perjalanannya dari pulau Lapang dan Batang (Lepanbata) ke arah utara menelusuri laut mereka tinggal dan menetap pertama kali di Wairiang, kemudian ke arah utara dan mendiami Edang Aya Wei Laong di Ramu tempat yang terletak diantara Leo Hoeq, Atarodang dan Maramu dekat Leuwayang.

Sebagian lagi menelusuri wilayah bagian selatan dan utara, mereka tiba pertama kali di Noni wilayah Hobamatang Leuhapu yang kini telah berganti nama menjadi Mahal I dan Mahal II. Mereka yang menetap di sini kemudian mencari daerah yang lebih aman tapi subur, lalu mereka menemukan tempat yang bernama Payong Koto Manu lalu pindah ke Perung Peu Obu Hobamatang, yang kemudian menurunkan:
  • suku Odelwala
yang menetap di sana sampai sekarang.

Sementara mereka yang meneruskan perjalanannya menuju ke Wuyo Kape naik ke Balurebong dan menyebar ke barat dan menetap di wilayah Atakowa dengan keturunannya sampai sekarang menyandang:
  • suku Kowa Lama Botung
Mereka ini memiliki kebudayaan daerah yang cukup unik dan terkenal sampai sekarang adalah Beku.

Dari Wuyo Kape sebahagian lagi berjalan menelusuri dan mencari wilayah yang labih aman dan subur, mereka menuju ke wilayah Bobu sebahagian ke Lamatuka kemudian menurunkan:
  • suku Lajar
  • suku Lazar
  • suku Loyor 
di Ude Hadakewa. 

Yang lainnya meneruskan perjalanannya ke Waiteba, lalu ke Watutena, Bota Harpuka dan Paugora (Panggorang menurut orang Alor), dan sebagian lagi menuju ke Tanjung Atadei wutun (sekarang menjadi nama kecamatan Atadei di kabupaten Lembata), terus ke Lamanunang. Mereka juga menetap di sini dengan memiliki kebudayaan yaitu Are. Lalu ada yang ke Watuwawer menetap dan memiliki kebudayaan yang disebut Ahar. Budaya ini mempunyai upacara yang unik yaitu setiap bayi yang baru lahir entah laki atau perempuan wajib memasuki rumah adat yang disebut dengan upacara Tule Ahar. Di sana juga menetap:
  • suku Lera Lama Dike (Lejap)
  • suku Koba Lama Wale (Koban dan Waleng)
  • suku Tuka Lama Roning (Tukan dan Roning)
  • suku Lajar Lamabua (Lajar),
dengan budaya adatnya yang cukup terkenal yaitu Kolewalan.

Ada penduduk yang berjalan dan melintasi pantai Waibura dan mendiami Pedalewu di Lewalang dekat gunung Mauraja, Adowajo dan Petrus Gripe, Luhtobe dan Penutuk, lalu mereka mendaki ke Lamaheku, ada yang ke Lewokoba, yaitu:
  • suku Hekur

lalu ada yang menuju ke Laba Lewu di Namaweka lalu pindah ke Lite yang sekarang menurunkan:
  • suku Naya Hekur
  • suku Bala Hekur

Sementara yang menguasai Lamaheku adalah:
  • suku Koli Lolon
  • suku Pukai Lolon
  • suku Lewogromang

Sementara mereka yang ke Mirek Puken adalah:
  • penduduk Kayuaman
  • penduduk Atalajar
(mereka ini yang keturunannya ada yang menetap di kecamatan Pantar barat Laut/pulau Kangge) yang tinggal di leher gunung Mauraja.

Sebahagian lagi berlayar dengan perahu menuju ke Mulandoro sementara yang lainnya terus ke Labala. Yang turun di Mulandoro terbagi dua yaitu ada yang menetap di Mulandoro yang kemudian menurunkan:
  • penduduk Mulan Lama Gali,

sedangkan yang lain berjalan mendaki ke gunung menetap di Atawolo dengan:
  • penduduknya Atalaya Lew Nuban

Ada yang menetap di Labala tetapi ada sebahagian penduduk menuju ke Smuki dan Snaki terus ke Lewuka dan Udak. Di sana ada:
  • suku Soriwutun,
yang sebenarnya bersaudara dengan:
  • suku Laya Lama Bua 
atau
  • suku Atalaya Soriwutun,
keturunannya bersaudara dengan:
  • suku Lajar di Waiwejak (desa Nubahaeraka).
dan suku Atalaya Soriwutun, masih masih bersaudara juga dengan:
  • suku Atalaya Blikololon
  • suku Loyor,
yang mendiami desa Atalojo sekarang di kecamatan Atadei.

Sementara itu yang lain meneruskan perjalanan mereka ke Nuhalela, Lamalera dan Lamabaka dan menyebar ke seluruh wilayah Lembata. Ketika tejadi peristiwa Awololon (pulau di depan kota Lewoleba) tenggelam, maka penduduknya menyebar ke Lembata, Adonara, Solor, pulau Babi dan pulau Palue (Maumere), Wailamung dan Bogonatar (perbatasan Larantuka dengan kabupaten Sikka).

Hubungan Suku-suku
Sejumlah suku yang ketika migran terlebih dahulu membuat perjanjian untuk mengikat tali persaduaraan mereka. Perjanjian itu adalah menggunakan kata "Lama" dalam penamaan suku-suku yang di bawa oleh mereka. Maka semua suku pada waktu itu sepakat untuk menggunakan kata "Lama" pada suku mereka. Dengan demikian maka semua suku migran dari Lapang dan Batang menjadikan kata lama sebagai tali pengikat hubungan kekerabatan dan juga dapat mencari saudara mereka yang lain.

Suku-suku di Lembata, Adonara dan Solor menggunakan kata "Lama", yaitu:
  • Ruman Laba Bae
  • Likur Lama Koma
  • Wahen Lama Bera
  • Wayan Lama Holen
  • Lida Lama Loru
  • Matan Lama Mangan
  • Kape Lama Bura
  • Witing Lama Hingan
  • Hapu Lama Boleng
  • Hoe Lama Dike
  • Lera Lama Dike
  • Kowa Lama Botung
  • Nila Mani Tolo
  • Tolo Lama Ile
  • Watun Lama Gute
  • Laya Lama Bua (Lajar, layar, Lazar, Loyor)
  • Naki Uma Lama Dayo
  • Koba Lama Waleng
  • Tuka Lama Roni
  • Wolo Lama Doro
  • Mulang Lama Gali
  • Ura Lama Dayo
  • Bakan Lama Wala
  • Liwo Lama Rebong
  • Resa Lama Doro
  • Wuwur Lama Tangen
  • Boleng Lama Hodung
  • Wutun Lama Doan
  • Lama Blawa, Lama Helan
  • Lamaheku, Lama Ole
  • Lamalera
  • Lamanepa (Lama Nepa)
  • Lama Tonu Mata

Suku-suku Lain:
  • Paji
  • Demong

Suku Terbesar:
  • Kedang
  • Lamaholot

Sebagai seorang pelaku sejarah Leo Boli Ladjar (alm) (pensiun dan menetap di kalikasa ) dipercayakan oleh Raja Labala Ibrahim Baha Mayeli, bersama Opas Fransiskus Boli Kolin dari Lamaheku, kecamatan Atadei, mengikuti rapat di Hadakewa yang dipimpin oleh Yan Kia Polly. Pertemuan dilakukan di sebuah gedung sederhana di Hadakewa untuk menyusun staregi perjuangan rakyat Lomblen yang berawal dari statement 7 Maret 1954. Rapat dimulai sekitar pukul 14.00 atau jam 2 soreh. Pemimpin rapat Yan Kia Polly, sekretaris Polus Magun dari Lelalein. Belau ini keluaran dari Makasar dan karena tulisannya juga bagus. Beliau meliput rapat dengan menggunakan tulisan stenograf.

Dikisahkan Leo, yang memimpin rapat adalah Yan Kia Polly dengan berpakaian baju hijau lengan pendek, dan ber-ban dipinggangnya sementara Opas Boli Kolin dan Leo Boli Ladjar (penutur sejarah ini) duduk di sebelah selatan sedangkan pemimpin rapat di bagian timur. Pemegang amanat rakyat Lomblen adalah Yan Kia Polly bukan orang lain. Selain itu hadir Kepala Hamente Kedang Dia Sarabiti datang dengan mengendarai seekor kuda jantan merah berkaki putih. Peserta rapat yang sempat saya kenal pada waktu itu antara lain Yan Kia Polly, serta kepala kampung dan tua-tua yang hadir pada waktu itu yang mendapat kepercayaan dari wilayah Paji dan Demong. Wilayah Paji meliputi Labala, Kawela, Lewotolok dan Kedang, sementara wilayah Demong meliputi Lewoleba dan Hadakewa.

Wilayah Paji itu antara lain Hamente Labala ibukotanya Labala dengan rajanya Ibrahim Baha Mayeli. Hamente Kawela ibukota Belang dengan rajanya Kapitan Arap. Hamente Lewotolok dikepalai oleh Kapitan Solang dengan ibukotanya Lewotolok. Hamente Kedang ibukotanya Kalikur dengan kepala Hamentenya kapitan Dia Sarabiti. Sedangkan wilayah Demong meliputi Lamalera ibukotanya Lamalera dengan Kepala Hamentenya Kakang Bao dan Hamente Lewoleba dengan ibukotanya Hadakewa yang dikepalai oleh Atahala Hadung.

sumber:

Sejarah dan Budaya Suku Rongga, Nusa Tenggara Timur

Suku Rongga. Salah satu suku yang mungkin bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia belum mengenal suku bangsa yang satu ini. Suku Rongga mendiami kabupaten Manggarai Timur provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dalam beberapa informasi tentang Nusa Tenggara juga, hampir tidak pernah menyebut tentang suku Rongga, yang pernah disebut hanyalah tentang Manggarai, tapi tidak menyebut tentang keberadaan suku Rongga. Walaupun nyaris luput dari perhatian publikasi, namun masyarakat suku Rongga tetap antusias dalam mengungkapkan keberadaan mereka, juga sejarah, budaya dan kesenian serta kedaulatan wilayah suku Rongga di masa lalu.

Suku Rongga mendiami daerah sebelah selatan kabupaten Manggarai Timur. Mereka memiliki budaya yang unik, begitu juga bahasanya. Selain itu suku Rongga juga memiliki sejarah kebesaran peradaban sejak di masa lalu. Wilayah suku Rongga meliputi Kisol, Waelengga dan sebagian dari luas kecamatan kota Komba dan kecamatan Borong. Wilayah kedaualatan suku ini di sebelah Timur berbatasan dengan Wae Mokel dan di bagian Barat berbatasan dengan Wae Musur (Sita). Sementara di utara berbatasan dengan suku Mendang Riwu, suku Manus dan suku Gunung.

Sejarah Masa Lalu
Sebelum kerajaan Todo mengadakan ekspansi besar-besaran ke wilayah Timur, daerah ini sudah dikuasai orang Rongga selama berabad-abad. Kedatangan suku Keo dari Selatan Barat Laut tidak serta-merta menggeser peran sentral orang Rongga di wilayah ini. Sekitar abad 12 dan 13 terjadi pergolakan besar di mana Suku Rongga di bawah pimpinan suku Motu Poso mengusir sejumlah orang Keo yang datang dan hendak menguasai wilayah ini. Pertempuran itu berhasil mengusir pulang orang Keo. Sebagian yang terdesak melarikan diri ke arah Barat Melo, wilayah kecil yang berbatasan dengan dengan Iteng di Manggarai Tengah.

Di masa lalu, terdapat suku Keo yang mendiami wilayah Melo, kemudian suku Keo melakukan kontak hubungan dengan suku Todo dan menyatakan wilayah Rongga sebagai daerah kekuasaannya, sehingga dengan suku Todo pun menamakan wilayah ini dengan nama Kerajaan Adak Tanah Dena. Padahal dirunut dari sejarah, suku Keo adalah sebagai pendatang di wilayah Rongga. Tapi lama kelamaan suku Todo pun merasa terganggu dengan kehadiran suku Keo yang mengklaim wilayah Rongga sebagai daerah kekuasaan suku Keo. Selain itu suku Keo juga tidak berkenan di hadapan adat istiadat Manggarai, akibatnya suku Todo menyerang dan mengusir suku Keo di wilayah Melo, yang membuat suku Keo mulai terdesak.

Ekspansi suku Todo sekitar abad 18, mendapat dukungan dari suku Rongga yang antipati kepada suku Keo. Strategi perkawinan yang dilakukan suku Todo dengan suku Rongga semakin membuka jalan bagi suku Todo melebarkan kekuasaannya di wilayah ini. Dalam kisah lisan yang berkembang di Tanah Rongga, konon, mula-mula suku Todo memberikan gadis bernama Dhari kepada Tuan Tanah yang menguasai wilayah Rongga Barat (Rongga Ma’bha). Setelah perkawinan, terjadi ikatan kekerabatan di antara mereka. Suku Todo menyewa salah satu suku kecil di Rongga Ma’bha, untuk mewujudkan rencana besarnya menaklukkan Komba, Rongga Timur atau yang lebih dikenal dengan sebutan Rongga Ruju. Strategi ini pun berhasil.

Upaya suku Todo mengembangkan wilayahnya hingga Watu Jaji pun berjalan lancar karena mendapat bantuan dari suku Rongga yang sudah mengenal karakter dan topografi wilayah Ngada. Namun, dalam kisah penaklukan Todo terhadap Ngada hingga Watu Jaji nyaris tak pernah diungkapkan peran dua pahlawan Rongga Nai Pati dan Jawa Tu’u. Dua sosok ini konon menjadi tokoh sentral yang berperan memperkuat pasukan Todo menaklukkan Cibal.

Suku Todo menanamkan pengaruhnya di wilayah Manggarai dengan membentuk pemerintahan kedaluan yang kemudian berlanjut dengan UU NO. 5/ 1979 tentang Pemerintahan Desa membuat pemerintahan adat di wilayah Manggarai tergeser. Perubahan itu ternyata diikuti dengan proses penaklukan budaya ke wilayah Rongga. Setidaknya hal itu tampak terasa dalam beberapa ikon budaya Rongga yang terancam punah, seperti pakaian adat Rongga, aksen penyebutan nama beberapa tempat yang berubah, seperti Mboro menjadi Borong, Tanah Rongga menjadi Golo Mongkok dan lain-lain. Hampir selama 100 tahun orang Rongga tak sadar kehilangan identitas budayanya di bawah dominasi suku Todo.

Kebudayaan
tari Vera
Salah satu kebudayaan suku Rongga yang masih bertahan hingga saat ini, adalah Tarian Vera. Tarian ini hanya dimiliki oleh suku Rongga, dan tidak dimiliki dalam budaya Manggarai maupun budaya Flores umumnya. Gerakannya yang khas serta pertunjukkannya yang hanya berlangsung secara aksidental membuat generasi masa kini banyak yang tidak menguasainya. Masuknya berbagai budaya dari luar turut mempengaruhi kelestarian Tari Vera ini di kalangan generasi muda suku Rongga.

Kebijakan Pemerintah Daerah Manggarai, turut mempengaruhi memudarnya beberapa simbol budaya suku Rongga, yang terkesan menyeragamkan begitu saja kearifan dan keunikan budaya lokal yang berada di wilayah Rongga ke dalam satu budaya bernama Manggarai. Pengalaman sejarah ini bagi orang Rongga adalah suatu yang cukup pahit untuk dikenang.
Penyebab lain, akibat kurangnya masyarakat suku Rongga mendapat pendidikan sampai ke jenjang tertinggi. Pada tahun 70, hanya ada 1 orang Rongga yang berhasil menyandang gelar Sarjana. Tahun 80, hanya berkisar sekitar 5 sampai 10 orang sarjana. Periode tahun 90 hingga kini, barulah bermunculan banyak sarjana-sarjana orang Rongga, yang diharapkan bisa mengembalikan dan mengangkat budaya suku Rongga.

Dari sebuah sumber, mengatakan tentang asal usul dan sejarah suku Rongga, terdapat perbedaan budaya dan kesenian antara orang Rongga dengan budaya Manggarai maupun Ngada. Selanjutnya dikatakan banyak banyak temuan yang cukup mencengangkan, di antaranya tentang peradaban Rongga yang tersisa sejak zaman batu, situs-situs peninggalan perang maupun filsafatnya yang cukup kokoh sebagai pegangan hidup pada orang Rongga di masa lalu.

sumber:
sumber foto:

Ritual Adat Suku Manggarai

Suku Manggarai, di pulau Flores yang tersebar di 2 kabupaten, yaitu kabupaten Manggarai Barat dan Manggarai Timur di provinsi Nusa Tenggara Timur, memiliki sederet upacara ritual sebagai ucapan syukur atas kehidupan yang sudah dijalani dalam periode waktu tertentu. Seluruh rangkaian prosesi dilakukan demi menjaga ketenangan batin dan keharmonisan antarwarga Manggarai.

Beberapa Ritual Adat suku Manggarai, adalah:
tradisi Caci
suku Manggarai
  1. Tradisi Caci, semacam olah raga tradisional yang dijadikan tradisi ritual menempa diri. Pentas kolosal pemuda setempat itu diyakini bisa terus menjaga jiwa sportivitas. Maklum, olah raga yang dilakukan tak lain dari pertarungan saling pukul dan tangkis dengan menggunakan pecut dan tameng. Pertarungan antardua pemuda tersebut selalu dipenuhi penonton dalam setiap pergelaran di lapangan rumput Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai.
    Pertunjukan Caci diawali dengan pentas tarian Danding, sebelum para jago Caci beradu kebolehan memukul dan menangkis. Tarian itu biasanya disebut juga sebagai Tandak Manggarai, yang dipentaskan khusus hanya untuk meramaikan pertarungan Caci.
    Gerakan penari Danding lebih enerjik ketimbang tari Vera atau tari Sanda Lima. Para penarinya pun ikut melantunkan lagu dengan lirik yang membangkitkan semangat para pemain caci dalam bertarung.
    Pertarungan Caci dilakukan oleh dua kelompok, yang masing-masing terdiri dari delapan pemain. Setiap peserta mendapat kesempatan pertama sebagai pemukul, dan selanjutnya bertindak menjadi penangkis serangan.
    Permainan Caci dijadikan pelajaran berharga bagi anggota suku Manggarai dalam mengendalikan emosi. Pasalnya, meski saling mencambuk -dan biasanya bakal terluka- sopan santun dalam gerakan di arena, ucapan, dan hormat kepada lawan selalu dijaga para pemainnya.
  2. Ritual adat Penti, yaitu suatu Upacara Adat merayakan syukuran atas hasil panen yang dirayakan bersama-sama oleh seluruh warga desa. Bahkan ajang prosesi serupa juga dijadikan momentum reuni keluarga yang berasal dari suku Manggarai.
    Ritual Penti dimulai dengan acara berjalan kaki dari rumah adat menuju pusat kebun atau Lingko, yang ditandai dengan sebuah kayu Teno. Di sini, akan dilakukan upacara Barong Lodok, yaitu mengundang roh penjaga kebun di pusat Lingko, supaya mau hadir mengikuti perayaan Penti. Lantas kepala adat mengawali rangkaian ritual dengan melakukan Cepa atau makan sirih, pinang, dan kapur. Tahapan selanjutnya adalah melakukan Pau Tuak alias menyiram minuman tuak yang disimpan dalam bambu ke tanah.
    Urutan prosesi tiba pada acara menyembelih seekor babi untuk dipersembahkan kepada roh para leluhur. Tujuannya, supaya mereka memberkahi tanah, memberikan penghasilan, dan menjauhkan dari malapetaka. Para peserta pun mulai melantunkan lagu pujian yang diulangi sebanyak lima kali. Lagu itu disebut Sanda Lima.
    Usai itu, rombongan kembali ke rumah adat sambil menyanyikan lagu yang syairnya menceritakan kegembiraan dan penghormatan terhadap padi yang telah memberikan kehidupan. Ritual Barong Lodok yang pertama ini dilakukan keluarga besar yang berasal dari rumah adat Gendang. Upacara serupa juga dilakukan keluarga besar dari rumah adat Tambor. Keduanya dipercaya sebagai cikal bakal suku Manggarai.
    Puncak acara Penti ditandai dengan berkumpulnya kepala adat kampung, ketua sub klen, kepala adat yang membagi tanah, kepala keluarga, dan undangan dari kampung lain. Mereka berdiskusi membahas berbagai persoalan berikut jalan keluarnya.
  3. Ritual Barong Lodok juga disimbolkan untuk membagi tanah ulayat kepada seluruh anggota keluarga. Tanah yang bakal dibagikan itu mempunyai beragam perbedaan luas, tergantung status sosial. Pembagiannya disimbolkan dengan Moso, yakni sektor dalam Lingko yang diukur dengan jari tangan. Tanah tersebut dibagi berdasarkan garis yang mirip dengan jaring laba-laba. Tua Teno adalah satu-satunya orang yang memiliki otoritas membagi tanah tersebut.
  4. Ritual Barong Wae. Ritual ini diadakan setelah mengadakan ritual Barong Lodok, Di sini, warga kembali akan mengundang roh leluhur penunggu sumber mata air. Menurut kepercayaan, selama ini roh leluhur itu telah menjaga sumber mata air, sehingga airnya tak pernah surut. Ritual ini juga menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan, yang telah menciptakan mata air bagi kehidupan seluruh warga Desa Manggarai. Kurban yang dipersembahkan adalah seerkor ayam dan sebutir telur.
  5. Ritual Barong Compang. Diadakan setelah mengadakan Ritual Barong Wae. Prosesinya dilakukan di tanah yang berbentuk bulat, yang terletak di tengah kampung. Roh penghuni Compang juga diundang mengikuti upacara penti di rumah adat pada malam hari. Suku Manggarai mempercayai, roh kampung yang disebut Naga Galo selama ini berdiam di Compang.
    Bagi suku Manggarai, peranan Naga Galo sangat penting dan amat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Alasannya, Naga Galo-lah yang telah melindungi kampung dari berbagai bencana. Mulai dari kebakaran, angin topan, bahkan bisa menghindarkan timbulnya kerusuhan di kampung.
    Ritual Barong Compang diakhiri dengan langkah rombongan yang masuk ke rumah adat, untuk melakukan upacara Wisi Loce. Di sana, mereka menggelar tikar, agar semua roh yang diundang dapat menunggu sejenak sebelum puncak acara Penti.
  6. Keluarga dari rumah adat Gendang dan Tambor melanjutkan acara Libur Kilo. Prosesi yang satu itu bertujuan mensyukuri kesejahteraan keluarga dari masing-masing rumah adat. Uniknya, upacara tadi dipercaya sebagai upaya membaharui kehidupan bagi seluruh anggota keluarga. Sebab dalam upacara itu, warga yang bermasalah, dapat membangun kembali hubungan keluarga supaya lebih baik lagi.

Semua tradisi ritual, dijadikan kebanggaan tersendiri untuk masyarakat suku Manggarai. Sebab, lewat semua ritual tadi, mereka ditempa untuk selalu bersyukur dan mau saling menjaga ketenangan batin dan keharmonisan antarwarga Manggarai.

sumber: